Karawang Sepertinya Memang Ditakdirkan untuk Tetap Panas

January 28, 2015

Sudah hampir 2 tahun saya tinggal di Karawang. Kota yang memang masih menjadi kota yang beras karena banyak sawah dimana-mana. Tetapi kesini-kesini kok sawahnya semakin berkurang ya.

Saya gak akan bahas soal sawahnya. Tapi soal cuacanya. Cuaca disini memang cukup membuat keringat berceceran, khas Pantura. Ya memang Karawang merupakan jalur masuk ke Pantura lewat Cikampek lalu ke Subang dst.

Karena dekat laut, cuaca disini pun panas sekali. Padahal sebenarnya lautnya masih cukup jauh dari sini. Tapi karena factor ketinggian dan lingkungan membuat panasnya awet. Tidur pun kipas angin harus tetap menyala. Mati sebentar, udah keluar keringat lagi. Jadi jangan heran kalau kebanyakan rumah memasang AC atau blower.

Sebelumnya saya juga pernah tinggal di Indramayu selama 1 bulan lebih untuk kerja praktek di salah satu industri BUMN yang cukup ternama. Jadi setidaknya sudah agak terbiasa panasnya seperti apa. Hehe

Beda sama di Bandung. Disana mah gak perlu yang namanya AC atau kipas angin. Cukup buka jendela atau pintu, udara sejuk pun terasa. Walaupun memang akhir-akhir ini menjadi sedikit lebih panas.

Dan sekarang ternyata masuk ke musim hujan. Yang saya tahu, musim hujan itu terjadi pada bulan yang belakangnya ada ber seperti September, Oktober, November, dan Desember. Tetapi ini sudah mau masuk bulan Februari hujan sering terjadi.

Dan gak mungkin juga nama bulannya berubah menjadi Ferbruaber. Gak enak dibaca, asli.

Disini kalau hujan agak menjadi masalah. Hampir sama masalahnya seperti Jakarta, banjir.

Banjirnya sih memang gak terlalu gede. Tapi tahun lalu pernah jalanan di kota terendam air sampai betis. Dekat kosan saya pun sama. Alhamdulillah kosan gak kebanjiran.

Dan itu membuat banyak industri agak kerepotan mengatasinya. Terutama untuk industri yang dekat dengan jalan raya umum. Teman satu kosan saya malah pabrik tempat dia bekerja kebanjiran.

Memang cuaca jadi lebih adem dan tidak terlalu panas. Tapi rasanya aneh saja gitu Karawang dengan citarasa Bandung. Jujur saja, gak enak.

Ternyata Sang Pencipta memang sudah menentukan bahwa Karawang itu harus tetap panas. Dan jika diberi cuaca dingin, rasanya jadi aneh.

Anehnya seperti apa? Sulit untuk dijelaskan. Kamu harus sudah tinggal kurang lebih 6 bulan lah untuk merasakan keanehannya.
Read more ...

Metamorfosis

January 25, 2015

Gak kerasa ya waktu berjalan. Perasaan baru kemarin saya masuk SMA, bertemu dengan teman baru, hobi baru, dan masalah baru. Merasakan indahnya bagaimana masa-masa SMA. Masih teringat jelas semua kenangan yang ada di dalamnya. Memperhatikan bagaimana teman SMA bertingkah laku, kesibukannya, dan kepolosannya. Dalam benak mereka belum ada beban masalah yang akan mendera. Hanya berfikir bagaimana caranya bisa mengerjakan PR matematika dan fisika.

Lanjut ke masa kuliah. Disini saya menemukan apa artinya sebuah perjuangan dan bagaimana masalah itu terjadi dan bagaimana untuk menghadapinya. Perjuangan untuk mendapatkan sebuah nilai dan tanda tangan dari dosen, perjuangan untuk tetap survive bagaimanapun masalahnya.

Pada masa kuliah saya belajar untuk tidak mudah mempercayai orang dan tidak bergantung pada seseorang. Temang kadang bisa menjatuhkan. Tapi banyak juga yang mensupport. Kekompakan tidak harus untuk dikoar-koarkan dan tidak harus diobrolkan pada saat masalah itu terjadi. Kekompakan tercipta kalau antar orang bisa saling menghargai satu sama lain tanpa keegoisan dari pribadi masing-masing.

Tapi ah sudahlah. Semua itu saya anggap sebagai ujian buat hidup kedepannya. Ujian untuk menempa diri ini supaya lebih kuat dan lebih tahu bagaimana untuk bertindak. Toh memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain lebih mulia ketimbang harus mengungkit kejelekan orang. Namanya juga manusia, begitupun dengan saya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.

Satu subjek yang ingin ditulis adalah teman. Teman yang saya kenal dari masa sekolah hingga kuliah. Semua memiliki arti masing-masing. Bagaimana setiap individu berperilaku agar bisa diterima di lingkungannya. Bagaimana individu-individu itu membuat sebuah kelompok karena merasa memiliki kesamaan yang sama. Dan muncul kelompok-kelompok yang terkadang tidak akur.

Seiring berjalannya waktu, mereka bermetamorfosis menjadi lebih matang dalam berperilaku. Ada yang menjadi lebih kalem, ada yang menjadi lebih vokal, dan ada juga yang berperilaku high-class.

Dan menurut saya, perubahan tersebut terjadi karena lingkungan yang dihadapinya. Kalau lingkungannya merupakan orang-orang yang memiliki gaya hidup kelas atas, secara tidak langsung orang yang ekonominya menengah kebawah akan memaksa untuk hidup gaya kelas atas. Makan di resto mahal, nongkrong di tempat mewah, gadget paling baru. Walaupun tidak semua.

Teman-teman yang saya kenal waktu sekolah hingga kuliah juga bermetamorfosis. Dan perubahan ini paling kontras terjadi pada kawan-kawan waktu saya SD, SMP, dan SMA. Bisa jadi itu karena pada saat itu adalah pencarian jati diri. Berusaha untuk diterima lingkungan yang menjadi mayoritas. Entah itu baik atau buruk. Baik atau buruk ini tergantung bagaimana si orang itu menyikapi. Si A menganggap lingkungannya baik. Tapi si F menganggap lingkungan itu tidak baik. Perspektif.

Dan suka atau tidak suka, itulah mereka sekarang.

Tapi, tidak terasa juga waktu berjalan. Satu persatu teman-teman saya menanggalkan masa lajangnya. Undangan mulai berdatangan mulai dari WhatsApp, Twitter, atau juga memberikan undangannya langsung. Dalam hati, sering saya bertanya.

“Saya kapan?”

Dulu saya menginginkan untuk menikah pada usia awal 20-an. Tapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pikiran, saya menganggap bahwa menikah itu bukanlah sebuah perlombaan. Siapa cepat dia yang menang. Bukan.

Tapi ada saja di linimasa yang mungkin sedang berbahagia dengan pernikahannya. Sampai-sampai diupload foto waktu pernikahannya, foto sang istri atau suaminya, foto berdua, sampai kelahiran anaknya. Dan yang paling kampret adalah waktu memasang status yang intinya adalah secara halus menggambarkan kalau dia akan atau sudah melakukan sesuatu. Mungkin tidak usah diperjelas juga ya.

Kadang suka muncul pertanyaan dalam pikiran. Apakah mereka menikah adalah hanya untuk sekedan pamer kemesraan saja di linimasa? Atau untuk mengukuhkan dirinya kalau ini loh gue, gue udah nikah dan lo belum. Kasiaan deh lu. Nikah tuh enak, apa-apa halal.

Heloooww.

Kalau kamu mau nikah hanya untuk sekedar mendapatkan pengakuan seperti itu, mungkin pikir-pikir dulu deh ya.

Tahu kok kalau menikah itu memang diwajibkan. Tahu kok menikah itu ibadah. Tahu kok kalau menikah itu menghalalkan yang diharamkan. Tahu kok kalau menikah memang jika sudah siap di usia muda lebih baik disegerakan. Tahu kok.

Anggap saja itu adalah sebuah kotak kebahagiaan orang lain yang sedang berbunga-bunga. Kotak kebahagiaan yang isinya lupa dikunci oleh yang memilikinya. Seiring berjalan waktu, kalau kotak itu tidak dikunci, akan ada hal-hal yang bisa saja masuk dalam kotak tersebut. Dan ketika hal itu ada di dalam kotak, tersadar bahwa lupa untuk menguncinya.

Untuk kamu yang akan menikah tahun ini, semoga berbahagia dan langgeng sampai tua nanti.
Read more ...

Renungan [NTMS]

January 12, 2015

Saya sedang membaca bukunya Felix Siauw yang berjudul Beyond The Inspiration. Buku ini sebenarnya sudah saya beli cukup lama, hanya baru saya baca sekarang dan itupun putus-nyambung.

Saya pun tidak akan mereview buku ini karena belum habis bacanya dan masih belum tahu cara mereview buku yang benar. Karena selera orang yang berbeda-beda dan tingkat imajinasi dari pembacanya. Buku selain permainan kata, imajinasi dan daya nalar pun dibutuhkan untuk memahami sebuah buku.

Saat membaca buku ini, saya membaca berulang-ulang sebuah halaman pada buku Beyond The Inspiration. Lebih tepatnya halaman 103. Berisi renungan bagi kamu yang masih menganggap dunia ini terjadi secara kebetulan, masih mempercayai teori Darwin, dan yang masih lalai dalam mengerjakan ibadah.

Berikut isinya.

Jika gravitasi di permukaan bumi lebih kuat dari sekarang, maka atmosfer menahan terlalu banyak ammonia dan methane. Jika lebih lemah makan atmosfer planet akan terlalu banyak kehilangan air.

Jika jarak bumi dengan matahari lebih jauh maka planet akan terlalu dingin bagi siklus air yang stabil. Jika lebih dekat, maka planet akan terlalu panas bagi siklus air yang stabil.

Jika kerak bumi lebih tebal maka terlalu banyak oksigen berpindah dari atmosfer ke kerak bumi. Jika lebih tipis maka aktifitas tektonik dan vulkanik akan terlalu besar.

Jika pergantian siang dan malam lebih lama, maka perbedaan suhu pada siang dan malam hari terlalu besar. Jika lebih cepat maka kecepatan angin pada atmosfer terlalu tinggi.

Jika interaksi gravitasi bumi dengan bulan lebih besar maka efek pasang-surut pada laut, atmosfer dan periode rotasi semakin merusak. Jika lebih kecil maka perubahan tidak langsung pada orbit menyebabkan ketidak-stabilan iklim.

Jika medan magnet lebih kuat maka badai elektromagnetik terlalu merusak jika lebih lemah maka kurang perlindungan dari radiasi yang membahayakan dari bintang.

Jika perbandingan antara cahaya yang dipantulkan dengan yang diterima pada permukaan lebih besar maka zaman es tak terkendali akan terjadi. Jika lebih kecil maka efek rumah kaca tak terkendali akan terjadi.

Jika perbandingan oksigen dengan nitrogen lebih besar maka fungsi hidup yang maju berjalan terlalu cepat. Jika lebih keccil maka fungsi hidup yang maju berjalan terlalu lambat.

Jika kadar ozon lebih besar maka suhu permukaan bumi terlalu rendah. Jika lebih kecil maka suhu permukaan bumi terlalu tinggi, terlalu banyak radiasi ultraviolet.

Jika aktivitas gempa lebih sering maka terlalu banyak makhluk hidup binasa. Jika lebih jarang maka bahan makanan di dasar laut yang dihanyutkan aliran sungai tidak akan didaur ulang ke daratan melalui pengangkatan tektonik.

Ditulis oleh ahli astronomi Hugh Ross dalam bukunya The Fingerprint of God.

Coba kamu bayangin, apa bisa manusia membuat hal yang seperti itu? Atau itu terjadi secara kebetulan saja? Kebetulan yang terlalu sempurna.

Ada lagi. Ini dari seorang ahli fisika matematis, Paul Davies, Profesor dari Universitas Arizona di Amerika. Dia melakukan perhitungan yang panjang terhadap keadaan yang harus ada pada saat Dentuman Besar terjadi dan menghasilkan angka yang hanya dapat digambarkan sebagai mencengangkan.

Menurutnya, jika laju pengembangan hanya berbeda lebih dari 10 pangkat -18 detik saja (satu detik dibagi satu miliar kemudian dibagi satu miliar lagi), alam semesta tidak akan terbentuk. Profesor Davies juga menjelaskan kesimpulannya:

Pengukuran yang teliti menempatkan laju pengembangan sangat dekat pada nilai kritis sehingga alam semesta dapat bebas dari gaya gravitasi dirinya dan mengembang selamanya. Sedikit lebih lambat maka alam semesta akan hancur bertabrakan, sedikit lebih cepat maka materi kosmik sudah menyebar secara acak sejak dulu.

Sangat menarik untuk menanyakan dengan pasti seberapa rumit laju pengembangan ini telah disesuaikan dengan sangat tepat untuk berada pada batas tipis dua kehancuran dahsyat. Jika laju pengembangan berbeda lebih dari 10-18 detik dari semestinya maka sudah cukup untuk memporak-porandakan keseimbangan yang rumit tersebut.

Energi ledakan alam semesta mengimbangi gaya gravitasinya dengan ketepatan yang nyaris tidak dapat dipercaya. Dentuman Besar (Big Bang) jelas bukanlah sembarang ledakan di masa lalu, tetapi ledakan dengan kekuatan yang dirancang begitu indah.

Roger Penrose, seorang ahli matematika Inggris terkenal dan teman dekat Stephen Hawking pun melakukan percobaan dengan mencoba memperhitungkan kemungkinan dari yang disebutkan oleh Profesor Davies tadi.

Dari hasil yang pengujian kemungkinan didapat oleh Penrose bahwa alam semesta ini tercipta secara kebetulan adalah satu per sepuluh pangkat sepuluh pangkat seratus dua puluh tiga. Saya gak bisa nulis pangkat disini. Kamu bisa membayangkan betapa sangat kecil kemungkinan kalau alam semesta ini terjadi secara kebetulan.

Lalu siapa yang menciptakan keseimbangan dan ketelitian yang sangat luar biasa ini? Siapa yang menciptakan titik singularitas untuk dapat terjadinya Dentuman Besar? Hanya Tuhan Yang Maha Esa, Yang Mahateliti.

Atau kalau mau secara sederhananya, bisa menyaksikan video Felix Siauw ini yang diambil dari situs Syiar.co
Read more ...

Ongkos Belum Turun, atau Memang Tidak Berencana untuk Diturunkan?

January 6, 2015

Postingan ini harusnya saya publish kemarin. Cuma karena terlalu capek, jadinya sekarang.

Hari ini saya kembali ke perantauan. Sedih juga sih sebenernya meninggalkan Bandung. Soalnya seabreg kenangan dan hidup saya sedari kecil hingga dewasa ada disini. Lahir disini, sekolah disini, kuliah pun disini. Cuma sayangnya saya meninggalkan Bandung saat Bandung sedang bagus-bagusnya.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika ada tetangga yang bilang kalau saya itu bukan pergi, tapi pulang. Pergi dari kota ini dan pulang ke Karawang tempat saya bekerja dan bisa saja saya mempunyai keluarga disini.

Dibawa positif aja. Soalnya jarang antara Karawang dengan Bandung tidak terlalu jauh. Cukup naik bus Primajasa, duduk manis, langsung sampai selama sekitar 2 jam.

Kali ini saya naik bus Primajasa lagi. Ya mau bagaimana lagi wong itu satu-satunya bus dari Bandung yang melewati jalanan Karawang tanpa harus lewat ke Purwakarta dulu. Jauh soalnya.

Saya pernah naik yang ekonomi dan lewat Purwakarta. Selisih antara yang AC dan non AC untuk sampai ke Karawang sekitar 1 jam. Memang ekonomi lebih murah, tapi yang lebih mengutamakan waktu dan kenyamanan, bus AC emang pilihan namun dengan konsekuensi harga yang lebih mahal.

Ngomong-ngomong soal tarif, sebelum harga BBM naik, bus mematok harga IDR 42 ribu untuk perjalanan Bandung-Cikarang. Karena Karawang sudah dekat Cikarang, jadi yang turun di Karawang harus bayar segitu juga. Mahal? Iya sih, soalnya tinggal nambah sekitar IDR 10 ribu saya udah bisa naik bis Budiman ke Tasikmalaya.

Ini masih menjadi sebuah misteri..

Dan setelah kenaikan BBM, ongkos bus juga naik menjadi IDR 52 ribu. Jumlah yang cukup besar menurut saya sebagai pekerja pabrik. Sebenarnya ada travel. Cuma harganya lebih mahal dari ongkos bis, sekitar IDR 65 ribu.

Semuanya jadi serba mahal.

Tapi sewaktu BBM turun, belum ada penyesuaian lagi dari angkutan bis maupun angkutan umum lainnya. Angkot saja dengan jarak tempuh sekitar 2 km saja menjadi IDR 2 ribu. Padahal biasanya hanya seribu rupiah saja. Dan BBM turun pun tidak ada penyesuaian dari mereka. Turun sekitar 500 rupiah bisa mungkin ya.

Cepat naik, susah turunnya. Atau memang sengaja tidak diturunkan. Entahlah.
Read more ...

Mengumpulkan Semangat Berkerja Lagi

January 4, 2015

Liburan yang cukup lama akhirnya berakhir juga. Hari ini, hari Ahad tanggal 4 Januari 2015, banyak orang sedang bersiap-siap untuk mempersiapkan hari besok. Mulai dari anak sekolah, hingga para pekerja. Termasuk saya. Sayapun saat ini sedang mengumpulkan mood untuk bekerja lagi, soalnya tubuh ini masih dalam mode liburan, hehe.

Memang agak susah untuk mengembalikan semangat bekerja setelah sekian lama libur. Biasanya waktu libur bisa bebas tidur kapan saja, males-malesan, jalan-jalan, leyah-leyeh, dst. Tapi besok sudah harus bekerja lagi.

Tapi harusnya itu jangan jadi halangan. Liburan bukan berarti kita bakalan libur seterusnya. Ada saatnya kita harus liburan, ada saatnya juga buat bekerja. Kalau liburan terus berarti gak kerja, kecuali kamu memang blogger travel yang dibayar. Hmm..mau dong.

Hari pertama kerja sepertinya masih terbawa sindrom liburan. Tentu hal ini haruslah diminimalisir supaya produktivitas kerja tetap terjaga. Gak mau juga kan performa jadi menurun pas kerja.

Hari terakhir liburan ini juga sengaja saya hanya di rumah saja. Soalnya agar besoknya bisa fit buat mencari nafkah lagi.

Dan juga tak lupa buat mengubah mindset agar menyukai hari Senin. Apalagi habis libur panjang, ditambah sindrom "I Hate Monday", pasti besoknya kamu bakalan males banget buat pergi kerja. Nah coba dihilangkan dulu. Kalau tidak bisa, diminimalisir.

Saya siap buat bekerja lagi. Kalau kamu?
Read more ...

Tahun 2015 Masih Percaya dengan Ramalan? Please Atuhlah

January 3, 2015

Tahun 2015 udah kita songsong selama dua hari. Dan Alhamdulillah ide-ide ini selalu bertebaran di kepala. Menunggu untuk direalisasikan dalam bentuk tulisan. Semoga saja ide ini akan selalu tetap ada agar blog ini berisi konten yang mendekati bagus. Hehe.

Tahun 2015 juga sudah saatnya kamu jangan berpatokan dengan ramalan atau follow akun ramalan. Soalnya kalau kamu percaya dengan yang begitu, ibadah kamu, untuk yang beragama muslim khususnya, tidak akan diterima selama 40 hari. Kalau saya salah, koreksi.

Jadi selama 40 hari itu ibadah kamu itu gak ada gunanya sama sekali. Kebayang kan ruginya segimana?

Kita yakini saja kalau apa yang akan kita lakukan kedepannya adalah hasil dari apa yang kita lakukan sekarang. Bukan dari perkataan ramalan. Jangan diperbudak dengan ramalan. Kamulah yang menentukan masa depan kamu seperti apa.

Tapi ramalan itu benar loh. Buktinya apa yang dibilang ramalan itu benar.

Itu cuma kebetulan. Semua yang terjadi itu sudah ditentukan oleh Tuhan dan kita sebagai makhluk-Nya gak berhak buat mengetahui masa depan.

Saya gatel buat nulis tentang ramalan ini. Soalnya banyak di media sosial yang nge-retweet dan mem-follow akun ramalan. Followersnya juga banyak dan kebanyakan sih cewek. Ada juga yang berjilbab.

Sebenarnya agak riskan juga nulis tentang ini. Tapi gakpapa sekalian mengingatkan kembali supaya tidak percaya dan tidak mem-follow akun ramalan. Khususnya buat kamu yang pake jilbab. Sayang dong udah cantik-cantik dan soleh, masih follow akun seperti itu J
Read more ...

Tahun Baru, Semangat Baru

January 2, 2015

Alhamdulillah, sekarang sudah tahun 2015. Menginjak hari ketiga di tahun yang baru ini, tentu sebelum tahun baru kemarin kamu sudah menyiapkan beberapa resolusi yang ingin kamu capai di tahun 2015 sebagai perbaikan dan cerminan diri setelah apa yang kamu lakukan di 2014 lalu.

Tentu kita sebagai manusia banyak sekali berbuat kesalahan. Namun manusia pun bisa memperbaiki kesalahan tersebut agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Berkat kemampuan berfikirlah manusia bisa mengintrospeksi dirinya sendiri. Tidak seperti hewan yang hanya berbekal naluri saja.

Tahun baru bagi Indonesia tidak seharusnya dirayakan menurut saya. Karena menjelang pergantian tahun, Indonesia dilanda musibah yang besar. Mulai dari longsor di Bojonegoro, hingga jatuhnya pesawat Air Asia yang sampai sekarang ini masih banyak diberitakan di layar kaca maupun portal berita di internet.

Tahun baru juga biasanya identik dengan kembang api dan sampah. Lebih baik bermuhasabah dan banyak-banyak berdoa karena umur bumi ini semakin bertambah tua. Juga mendoakan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana.

Walaupun begitu, tahun baru 2015 ini harus menjadi momentum kebangkitan bagi kita. Meskipun kita bisa bangkit kapan saja dan tidak usah menunggu momentum, setidaknya tahun baru bisa mengingatkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Seperti yang belum menikah, ingin menikah di tahun ini Yang belum dapat kerja semoga tahun ini bisa dapat kerja. Yang sering mabuk-mabukan, semoga disadarkan kalau itu merupakan hal yang merugikan buat diri sendiri. Dan semangat-semangat lain yang ingin kamu wujudkan pada tahun ini.


Tetap semangat kawan!
Read more ...
 

Followers